Kamis, 09 Juli 2020

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM


HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM

Tadi malam sempat ikut kegiatan ‘ngaji ilmu dari suatu webinar’. Ada hal menarik dari pemateri pertama yaitu  Prof Laksono, seorang guru besar Antropologi UGM, menarik buat saya karena materinya kebetulan nyambung dengan apa yang sedang saya tulis di Blog saya tentang hidup selaras alam. Awal pemaparan materinya membuat saya sempat ‘bete’  mendengarnya, karena bingung dan diawali dengan lagu daerah (Jawa) yang saya tidak tahu arti dan maknanya. Namun setelah menyimak lebih lanjut ternyata jadi menarik karena mengajak kita untuk menghilangkan stress dan melegakan hati dari kondisi pandemi saat ini. PM. Laksono membahas tentang pentingnya manusia untuk hidup selaras dengan alam melalui ‘rengeng-rengeng maskumambang”. Saat pandemi ini penting untuk menghibur diri dimasa terkurung dalam rumah yang cukup lama, karena stay at home dilakukan tidak sebentar,  bukan 1 menit, 1 jam, 1 hari , 1 bulan tapi dalam waktu yang lama dan belum punya ujung yang jelas. Karena itu penting menguatkan, membesarkan hati  manusia agar situasi sumpek terkurung dalam rumah bisa dengan hati lebih lapang, dengan mengajak menyenandungkan senandung ‘“rengeng-rengeng Maskumambang” yang selaras dengan alam sesuai bahasa daerah masing-masing. Konkritnya kegiatan ini diinisiasi oleh suatu komunitas dengan membuat sayembara ‘Rengeng-rengeng Maskumambang”.
Ada dua kata asing ditelingaku dan belum pernah ku dengar yaitu ‘rengeng-rengeng’ dan kata ‘Maskumambang’. Karena penasaran maka saya coba buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  ternyata ada di dalamnya. Menurut kamus bahasa Indonesia’ rengeng-rengeng’ berarti benyanyi-nyanyi  kecil dengan suara pelan (tidak jelas kata-katanya)  dan santai. ‘Maskumambang’ yaitu bentuk komposisi tembang macapat, biasanya dipakai untuk melukiskan kisah sedih atau keprihatinan yang mendalam, mempunyai bait lagu yang terdiri atas empat baris, baris pertama mempunyai 12 suku kata yang. Ini adalah suatu budaya lokal dengan menyanyikan satu tema lagu yang diangkat, digunakan untuk menggembirakan, nenyenankan atau menenangkan hati berdasarkan kondisi atau suasana yang ada.  Kalau dalam budaya Bugis & Makassar ada dikenal  sinrilik’,  dan dalam budaya makassar  ada juga dikenal lagu dalam  ‘a’royong’  dan setiap daerah akan berbeda-beda namanya.  
Berbicara alam, maka otomatis kita berbicara holistik tentang segala isinya. maka untuk dapat hidup tenang dan bahagia maka penting untuk menyelaraskan nada kehidupan kita dengan nada alam sehingga tidak terdengar gaduh dan menyesakkan dada. Jika melawan alam berarti melawan arus, jika melawan arus maka ada friksi, ada benturan. Apabila ada benturan maka berbagai efek yang akan muncul, syukur-syukur jika efek positif tapi jika efek negatif yang muncul maka disinilah muncul masalah dan kerugian bagi manusia.
Hidup selaras dengan irama alam berlaku untuk semua situasi dan kondisi alam dan lingkungan hidup, dalam artian bahwa manusia harus bisa melakukan adapatasi atau penyesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh alam sehingga masalah lingkungan hidup diminimalisir resikonya bagi manusia. Sebutlah masalah lingkungan saat ini yang banyak terjadi di musim hujan adalah banjir dan longsor. Miris dan menyedihkan  jika melihat rumah dibawa pergi oleh air (banjir) atau dibawa oleh tanah bergerak (longsor). Beberapa kasus banjir di tanah air dengan kerugian yang tidak sedikit, beberapa kasusr longsor di tanah air juga banyak terjadi.  Baru-baru ini gambarnya viral di medsos tanah longsor  yang terjadi tanggal 26 Juni 2020  di kelurahan Battang Barat Kec. Wara Barat  Palopo dan membawa rumah ke dalam jurang serta mengakibatkan jalan terputus. Tanah longsor seperti itu sudah kerap kali terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Sebut saja longsor di Bandung 33 orang meninggal (23/2/2010), Agam, Sumbar (27/1/2013) ada 20 orang meninggal, Banjarnegara (12/12/2014) meninggal 20 orang, Lonsor di kaki Gunung Bawakaraeng Gowa (26/3/2004) menewaskan 30 orang warga dan masih banyak lagi kejadian longsor yang terjadi di tanah air. Pada hakekatnya terjadinya suatu banjir atau tanah longsor tidak masalah jika tidak membawa kerugian langsung pada manusia, tapi jika sudah menimbun ternak, rumah dan bahkan manusia ini yang perlu menjadi perhatian bersama dalam memanfaatkan suatu sumber daya alam.
Contoh kasus tanah longsor,   mungkin kita menganggap bahwa sudah sunnatullah itu terjadi, tapi sebenarnya ada campur tangan manusia di dalamnnya. Pemanfaatan lahan secara serampangan sering terjadi dalam masyarakat kita. Terkadang masyarakat menganggap bahwa tidak ada yang boleh melarang menebang pohon dan merubahnya menjadi lahan pertanian palawija, ini tanah milik saya.  siapa yang mau melarang jika saya membangun rumah dan memanfaatkan lahan di  lereng pada kemiringan 45 derajat, ini tanah saya punya. Sikap egois seperti ini banyak terjadi dalam masyarakat kita. Rasa memiliki manusia yang sangat tinggi biasanya menjadikan tidak peduli pada hak publik yang dirampasnya. Begitu bencana sudah datang apa yang mau dikata, nasi sudah menjadi bubur hanya bisa terdiam karena tertimbun atau terdiam karena heran melihat tanah mengalir bagaikan air. Bencana yang terjadi kelihatan sebagai sebuah bencana alam, tapi jika di runut secara detail, sebenarnya kebanyakan bencana terjadi  merupakan bencana buatan manusia. Manusia  yang membuat bencana lewat tangannya sendiri. Hal ini sesuai sebagaimana di firmankan Allah dalam Qs. Ar Ruum (30): 44.
“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut (disebabkan) karena perbuatan manusia , supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat ) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar. ) [Qs. Ar Ruum (30): 44
] “ ... dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan [Q.s. al-Qashash” (28): 77]
Pada berbagai tempat yang terjadi tanah longsor secara besar-besaran terlihat bahwa alih fungsi lahan pada bagian hulu merupakann salah satu masalah tersendiri tetapi berakibat pada banyak masalah. Perlindungan dan pemeliharaan fungsi tanah di lahan yang sesuai peruntukannya penting dilakukan oleh semua unsur dan komponen masyarakat demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan kehidupan yang lestari. Manusia sebaiknya jangan egois dalam memanfaatkan alam, tanpa memperhatikan daya dukung lingkugan demi kehidupan lestari. Oleh karena itu mari kita menjadi bijak dalam hidup ini. Berpijak di bumi Allah Swt. dengan mengikuti irama alam agar menghadirkan nyanyian alam yang menenangkan, menyenangkan,  serta membahagiakan diri kita dan seluruh isi alam semesta.


Bone, 9 Juli 2020


Suriani Nur


Kamis, 02 Juli 2020

TENTARA ALLAH UNTUK MANUSIA


VIRUS CORONA TENTARA ALLAH UNTUK MANUSIA


Beberapa hari yang lalu, salah satu teman kuliahku di Universitas Negeri Makassar telah berpulang ke rahmatullah, karena penyakit Covid-19 yang dideritanya.  Saya merasa sedih karena kehilangan teman kuliah yang lucu dan heboh disetiap ada pertemuan.  Menurut informasi dari group WA beliau dikuburkan tengah malam jam satu dengan mengikuti protokol pemulasaran jenasah untuk penderita covid. Pemulasaran yang tidak boleh diantar oleh keluarga, kerabat dan teman-teman. tapi hanya diantarkan oleh petugas khusus yang telah ditunjuk untuk tugas ini. Walaupun penyakit yang disebabkan virus corona bukan suatu penyakit tunggal yang membuat kematian tapi virus ini telah memberikan andil besar dalam kematian seseorang.
Mengapa virus ini menakutkan? karena masuk ke organ tubuh kita bagaikan ‘bajak laut’ yang naik ke kapal dan mengambil alih kemudi jika seluruh awak kapal lemah dan kalah bertarung. Virus corona sebagai makhluk ‘tak kasat mata’ masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung dan mulut, Virus memiliki ujung tajam yang membuatnya dapat menempel ke membran sel manusia, kemudian materi genetis virus masuk menembus sel tubuh manusia. Melalui materi genetis inilah yang kemudian membajak metabolisme sel dan mengambil alih fungsi sel, sehingga sel tidak berkembang melainkan beralih haluan demi memperbanyak diri virus pembajak sel tersebut. Jadilah inang dikuasai dan melakukan replikasi secara berlanjut.
Virus dalam klasifikasi makhluk hidup atau benda mati sebenarnya masih perdebatan. Karena apabila berdiri sendiri dan tidak berada pada suatu inang, maka virus hanyalah benda mati berupa bahan genetik (RNA atau DNA) yang ditutupi protein serta membentuk kristal. Setelah menemukan inang barulah virus ini hidup dan dan berkembang biak serta menjadi sumber penyakit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa ada tiga tahapan virus ini dalam melakukan penyerangan terhadap paru-paru yaitu fase replikasi virus, hiper-reaktivitas imun, dan perusakan paru-paru. virus yang masuk ke dalam tubuh melalui jalur pernafasan dan membran mukus di bagian belakang tenggorokan, menempel pada reseptor di dalam sel, dan mulai berkembang di sana. 
Saat ini di kondisi ‘new normal’ virus masih gentayangan dimana-mana, sehingga perlu mengikuti protokol kesehatan untuk pandemi.  Virus corona merupakan tentara yang dikirimkan oleh Allah SWT, untuk mengawali sebuah proses yang telah masuk kategori “dead line” sebelum malaikat kiriman Allah datang, karena waktu kita di bumi terbatas dan sudah ditentukan.  “ ...dan bagimu ada tempat kediaman di bumi, kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” ( Q.s. al Baqarah (2): 36).  
Virus corona masuk dalam tubuh belum tentu orang positif, mengapa karena si virus kelelahan bertarung dengan imunitas diri seseorang yang bagus sehingga dia hanya bisa bertengger dalam tubuh,  tapi orangnya tidak sakit,  namun memiliki kemampuan menyebarkan virus dikenallah dengan manusia ‘pembawa penyakit’, ‘orang tanpa gejala’. Masih banyak misteri tentang virus corona ini, padahal sejatinya sudah mudah dikenali karena penyakit ini mirip dengan penyakit yang sudah pernah ada sebelumnya sehingga sudah bisa dikenali karakteristik perkembangan penyakit covis-19 dan memahami pola sang virus. Tapi realita menyatakan bahwa peneliti, dokter dan paramedis masih pada tahapan ‘trial and error’. Mengapa demikian? karena masih banyaknya hal yang membingungkan tentang viruus corona.
 Alam raya ini baik makro maupun mikro semuanya memiliki manfaat dan kegunaan, baik untuk kegunaaan secara langsung bagi manusia maupun manfaat tidak langsung melalui suatu mekanisme di alam. Termasuk virus yang selamai ni dikenal sebagai penyebab penyakit ternyata memiliki manfaat. karena memang Allah menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia.
                                                                                             
Tiada binatang –binatang yang ada di bumi ini dan tiada pula burung-burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan semuanya itu umat  juga seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatupun di dalam al-kitab, kemudian kepaaa tuhannya lah mereka dihimpun. (Q.S. Al An’am (6): 38)

“Dan tidak ada sesuatu yang melata di bumi melainkan atas Allah rezekinya dan dia mengetahui tempat kediamannya serta tempat penimpanannya. Semuanya termasuk dalam kitab yang nyata.
                                    
Dibalik namanya yang mengerikan,  sebenarnya virus  memiliki manfaat bagi kesejahteraan manusia. melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi virus dapat dimanfaatkan, karena memang seluruh isi alam ini dibuat untuk manusia.
“Dan dia yang menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian iti benar-benar terdapat tanda-tanda  (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Al-Jatsyiah [45]: 13)

Manfaat Virus  untuk : Bidang Pertanian pestisida biologis di bidang pertanian yang tidak mencemari lingkungan. Bidang Teknik Rekayasa dapat dibuat sebagai kapasitor setelah menginokulasi partikel virus lalu dicampur dengan senyawa Fe/besi. Bidang Kesehatan: virus dimanfaatkan sebagai bahan pembuat vaksin untuk kekekbalan tubuh tehadap penyakit, Virus digunakan sebagai terapi gen melalui rekayasa genetika. Virus digunakan sebagai pengobatan secara biologis untuk membunuh bakteri yang bersifat patogen. Virus digunakan untuk produksi interferon berupa senyawa pencegah replikasi virus  dalam inang. Virus di gunakan untuk produksi hormon insulin, dengan cara mencangkokkan virus ke dalam gen penghasil insulin dalam tubuh bakteri agar dihasilkan insulin dalam jumlah besar.
Virus sebagai mikroba dan seluruh isi alam raya ini diciptakan untuk manusia. Seluruh alam raya ditundukkan oleh Allah untuk kepentingan manusia, agar bisa beribadah kepada Allah Swt. dengan baik.

Bone, 02 Juli 2020


Suriani Nur

Rabu, 17 Juni 2020

LINGKUNGAN HIDUP DAN PANDEMI COVID-19



LINGKUNGAN HIDUP DAN PANDEMI COVID-19


Saat ini kita masih dalam suasana pandemi covid-19, entah kapan akan berakhir karena vaksin dan obatnya belum ditemukan. Jika tetap menerapkan “stay at home”, maka banyak sektor yang menjadi tidak produktif dan akan gulung tikar. Kondisi ini mengakibatkan ekonomi terancam padahal kehidupan kita harus berlangsung, sehingga memaksa kita untuk hidup dalam tatanan baru kalau mau tetap survive. Pada saat masih sibuk melawan pandemi virus corona, kita juga dihadapkan pada kondisi ekonomi yang semakin terpuruk. Baru beberapa hari diterapkan PSBB di jakarta setelah covid-19 merebak, terlihat banyak orang yang keluar dari kontrakakn untuk tidur di pinggir jalan karena tak mampu membayar kontrakan. Ada orang kelaparan, kriminalitas meningkat karena banyak PHK dan lain-lain persoalan sosial muncul akibat geliat ekonomi berkurang.  Sehingga walaupun menimbulkan pro dan kontra di dalam masyarakat, maka ‘New normal’ diambil demi memulihkan kondisi ekonomi.
New normal sebagai sebuah tatanan kehidupan normal yang berbeda dari kehidupan normal sebagaimana keadaan normal sebelum ada pandemi. Melakukan cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan dan berbagai aturan lainnya, yang sebelumnya jarang dilakukan kemudian menjadi sebuah protokol baru, yang harus dilakukan jika mau berkegiatan di luar rumah. Kalau dulu pakai masker hanya digunakan pelajar dan mahasiswa yang praktikum di laboratorium, dipakai oleh dokter dan paramedis dan berbagai profesi lainnya yang harus melindungi diri saat bekerja, maka saat pandemi ini kita semua diwajibkan memakai masker jika berinteraksi dan berada dalam kerumunan manusia. Karena menunggu virus corona untuk pergi tidak jelas kapan. Memangnya virus akan pergi? Mau pergi ke mana? Toch virus juga penghuni bumi ini, virus juga membutuhkan ruang seperti kita sebagaimana makhluk hidup lainnnya. Virus adalah merupakan bagian dari kehidupan kita.
Saya teringat suatu waktu awal pandemi dan media setiap hari banyak memberitakan tentang jumlah terinfeksi dan kematian manusia secara global, atau pemberitaan jumlah orang terinfeksi dan mengalami kematian di Indoensia,  anakku bertanya, “bunda corona itu kapan pergi yach?. Kenapa Allah menciptakan virus yang membuat orang mati?”. yach ini memang pertanyaan anak kecil tapi juga menjadi pertanyaan kita yang awan tentang semua ini. Susah juga mau mengusir virus, bakteri atau jamur dalam kehidupan karena semua ini adalah makhluk yang ada dalam lingkungan hidup. Sebagai mikroorganisme maka bakteri, jamur dan virus juga merupakan bagian dari ekosistem kehidupan. Dalam ekosistem antara satu komponen dengan komponen lainnya ada keterkaitan, ada hubungan baik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup, makhluk hidup dengan benda mati, maupun benda mati dengan benda mati.
Interaksi manusia dengan lingkungannya sudah dilakukan sejak manusia itu hadir di bumi ini. karena manusia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap lingkungannya. Mengapa? karena manusia memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan pasti dari alam. Interaksi manusia dengan lingkungannya akan terus berlanjut mulai dari bayi hingga dewasa tua dan bahkan meninggal hingga tubuh kita hancur di uraikan mikroorganisme menjadi unsur berupa: Carbon (C), Hidrogen (H), Nitrogen (N), Phosfor (P) dan lain-lain, serta akan menyatu dengan tanah. Dalam siklus kehidupan dimana kita berasal dari ‘sari pati tanah’ yang dimakan orang tua melalui aneka makanan, dan kemudian melalui perkawinan menghadirkan individu baru yang tumbuh menjadi dewasa, tua dan mati. Inilah di dalam lingkungan hidup terdapat siklus energi, siklus mineral, dan berbagai siklus dalam kehidupan.   
                Mencermati dari berbagai literatur terlihat bagaimana perkembangan epidemiologi menjelaskan tentang peranan lingkungan dalam terjadinya wabah dan penyakit. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap mewabahnya penyakit sudah lama diketahui dan diprediksi. Hippocrates (460-377 SM), merupakan seorang dokter dan tokoh di dunia kedokteran yang pertama kali memberikan argumennya bahwa penyakit berhubungan dan sangat berkaitan dengan lingkungannya. Kalau tidak ada interaksi maka tidak berpindah-pindah virusnya, makanya kita disarankan untuk mengikuti protokol kesehatan agar dapat memutus rantai penyebaran si virus.  
Virus, bakteri, dan jamur sebagai mikrooganisme sebenarnya dari dulu memang sudah ada dan akan terus ada hingga akhir zaman. Baik mikroorganisme menguntungkan maupun mikroorganisme yang merugikan. Seluruh komponen lingkungan hidup baik benda mati maupun makhluk hidup harus diperlakukan secara arif dan bijaksana. Manusia seyogyanya tidak mengusik dan menganggu keberadaan dan kehidupan makhluk hidup lainnya, termasuk mengotak atik makhluk hidup seperti virus melalui rekayasa genetik yang bertujuan dan berniat buruk untuk menghancurkan orang lain. Manusia harus bijak dalam mengembangkan teknologi dan memanfatkan sumber daya yang ada. Mari hidup selaras dengan alam...
  

Bone, 18 Juni 2020-06-18

Suriani Nur

Rabu, 10 Juni 2020

Responsif Gender Masih Perlukah Saat ini?

RESPONSIF GENDER MASIH PERLUKAH SAAT INI?

 

Oleh Suriani Nur

Ketika meng-upload tulisan saya tentang ‘responsif gender’ pada group WA  ada berbagai tanggapan baik yang ‘pro’ maupun yang ‘kontra’.  Meskipun demikian saya tetap senang karena beberapa teman, kerabat dan orang terdekat mau membaca dan menyimak  tulisan saya serta memberi komentar. Menulis, membahas atau berbicara tentang gender pasti ada yang senang dan tidak senang alias pro dan kontra.  Saya jadi teringat ketika diberikan amanah untuk mengelola sebuah unit baru pada masa lalu yang bernama Pusat Studi Wanita (PSW) di Kampus STAIN. Selain tantangannya adalah lembaga baru, juga visi dan misi utamanya menjadi tantangan tersendiri buat saya waktu itu, karena dikalangan teman-teman sebagai akademisi masih ada yang pro dan kontra.

Masih teringat pada masa itu,  hampir setiap saat saya diguyonin – entah serius atau tidak saya tidak mengerti-. Namun yang pasti adalah kehadiran saya ditengah mereka selama menjadi ketua PSW sering disindir dan terkadang dipanggil bukan nama  saya tapi dipanggilnya  ‘ibu geendeer’ ,...  ‘ibu gender datang tuh’,... “memang begitu kalau ibu gender”, dan masih banyak lagi bahasa mengejek (dielle’-elle), serta pelabelan dan stigma negatif  yang diberikan. Sepintas mungkin hanya satu atau dua kata tanpa makna dan terkesan guyon, tapi sejujurnya saya agak tidak nyaman dengan perlakukan seperti itu terhadap saya.  

Berbicara tentang gender memang selalu menimbulkan reaksi dan respon yang berbeda-beda bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan tergantung dari budaya, pengetahuan, pemahaman dan pengalaman hidup setiap orang. Sama halnya ketika saya dan team kerja dari program sosialisasi kesetaraan gender di madrasah dan mengajak sekolahnya ikut kegiatan Program Manajemen Madrasah Berkesetaraan, berbagai reaksi dan respon yang muncul dari kepala sekolah ada yang menerima dengan senang hati dan ada juga menolak karena kegiatan terkait gender dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu, melanggar agama, paham liberalisme dan ‘kebarat-baratan’.

Mengapa ketika membahas tentang kesetaraan gender serta merta ada orang merasa terusik, dan terkadang menimbulkan resistensi tersendiri dalam masyarakat?, karena kata ini mengusung suatu pemaknaan yang dapat merubah status, tanggung jawab dan peran serta hubungan atau relasi antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial. Ada jenis kelamin tertentu, atau ada segelintir orang yang merasa ‘terancam’ jika gender ini bisa menjadi pemahaman bersama dan kita semua memiliki persepsi sama tentang peran-peran sosial yang dapat dipertukarkan.  

Sejak tadi kita berbicara tentang Gender, sebenarnya apa sich yang dimaksud dengan gender??. Agar paham dan tidak fobia dengan  kata gender,  ada baiknya kita lihat pengertian tentang gender.  Gender adalah kata asing yang dalam kamus bahasa  Inggris diartikan sebagai ‘jenis kelamin’ dalam kamus bahasa Indonesia pun Gender memiliki arti jenis kelamin. Padahal  jika membuka buka beberapa referensi terkait pengertian gender maka Gender dan Jenis kelamin adalah dua kata yang berbeda.

Apa perbedaan antara ‘Jenis kelamin’ dan ‘Gender’?.  Jenis kelamin adalah  pembagian jenis perempuan dan laki-laki berdasarkan  perbedaaan biologisnya, yang merupakan kodrat Allah Swt., bersifat permanen,   umum, dan tidak dapat dipertukarkan.  Lalu Gender apa pengertiannya yach? gender artinya pembagian jenis perempuan dan laki-laki berdasarkan  perbedaaan peran sosialnya yang merupakan bentukan sosial budaya, tidak permanen dapat dipertukarkan sesuai budaya dan perkembangan zaman. Sejalan yang diungkapkan oleh Mufidah (2014)  yang menyatakan bahwa Gender adalah perbedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang diperoleh dari konstruksi sosial budaya dan dapat diberubah sesuai dengan perkembangan zaman (jenis kelamin sosial).

Di Indonesia lembaga yang pertama kali menggunakan kata gender yaitu Kantor Menteri Negara Peranan Wanita, yang sekarang dinamakan Kementerian pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak.  Kementerian ini telah menerbitkan buku Pengantar Teknik analisis Jender (1992) memberikan pengertian ‘Gender’ yaitu: interprestasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin laki-laki dan perempuan.

Jika menyimak dan menelaah tentang kesetaraan gender adalah sebenarnya berbicara tentang kemanusiaan dengan segala hak yang sama, berbicara tentang menyayangi dan memahami orang lain, tenggang rasa, menghormati dan menghargai sesama makhluk Allah. Melalui Kesetaraan gender diharapkan kaum perempuan dan laki-laki memiliki akses, partisipasi, kontrol dan manfaat yang sama terhadap semua perencanan, pelaksanaan dan hasil pembangunan dalam makna yang luas. Tidak ada yang merasa terpinggirkan, tapi memiliki hak yang sama. Bukankah Allah telah menciptakan manusia tidak ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan.

Jika dulu perempuan hanya di rumah mengurusi rumah,  sekarang sudah ikut terlibat di sektor publik dan ikut menambah perekenomian keluarga.  Konteks kekinian di saat sosial budaya masyarakat  sudah mengalami perubahan,  apakah masih perlu ini di bicarakan tentang kesetaraan gender? bukankah sudah banyak perempuan yang menduduki posisi strategis pada sektor publik?. Hal ini berarti sudah tidak penting lagi dipersoalkan tentang kesetaraan gender karena tercapai sudah kesetaraan gender. Sudah ada perempuan menjadi presiden, menteri, gubernur, anggota dewan, direktur, dosen, guru dan berbagai profesi lainnya.

Mengapa ada lagi masalah??. Karena disaat wanita sudah bisa keluar  dari rutinitas nya di wilayah domestik dan sedikir bergeser serta berkiprah di sektor publik. Pola pikir sebagian kaum laki-laki tidak ikut bergeser dan tidak ikut berubah karena nyaman dengan budaya patriakhi-nya. Maka muncullah beban ganda kaum perempuan karena dianggap bahwa memang sudah ‘kodratnya’ perempuan itu mengerjakan tugas domestik. Maka istilah setinggi-tinggi bangau terbang pasti akan kembali ke sarangnya. Dianalogikan sebagian orang kaitan perempuan yaitu setinggi-tinggi sekolah/pendidikan perempuan akan kembali juga ke dapur. Setinggi-tingginya karier perempuan maka tugas domestiknya wajib dilakukan karena sudah kodratnya.  Padahal seharusnya jika terjadi perubahan sosial budaya, maka pun jenis kelamin tertentu seharusnya dapat merespon dan mengalami perubahan mind set-nya juga. Ranah domestik dan publik bisa dilakoni perempuan,  maka sebaliknya untuk laki-laki pun dapat melakukan demikian. Karena pembagian jenis kelamin berdasarkan bentukan sosial budaya adalah sesuatu yang dapat dipertukarkan. Sehingga sosialisasi kesetaraan gender penting terus untuk dilakukan agar dapat melakukan penyadaran secara berkelanjutan, sehingga tumbuhlah kesadaran secara kolektif.  Wallahu a’lam bish-shawabi.


Bone. 11 Juni 2020


Suriani Nur

 

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM Tadi malam sempat ikut kegiatan ‘ngaji ilmu dari suatu webinar’. Ada hal menarik dari pemat...