Rabu, 27 Mei 2020

RESPONSIF GENDER di MASA PANDEMI COVID-19




Responsif  Gender di Masa Pandemi Covid-19

By: Suriani Nur

Tidak ada seorang pun yang memprediksi sebelumnya bahwa makhluk kecil yang bernama virus corona dapat mempengaruhi sikap dan perilaku manusia global saat ini. Masyarakat dunia telah mengalami perubahan besar pada semua lini kehidupan dan memiliki dampak sosial yang cukup nyata sebagai akibat dari virus SARS-CoV-2. Sejak wabah penyakit covid-19 merebak, berawal dari wuhan China kemudian menyebar ke berbagai negara, virus ini bukan hanya  menginfeksi manusia sebagai sebuah penyakit tapi sudah mengubah tatanan dunia global yang sudah mapan. Virus ini tidak pilih kasih, tidak memperhatikan status negara maju maupun negara berkembang, orang kaya maupun orang miskin, perempuan maupun laki-laki, bayi, anak-anak,remaja atau manula semua bisa menjadi target si virus tersebut. Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 (GTTPC19), hingga saat ini (27/5/2020) di Indonesia tercatat jumlah manusia terinfeksi: 23.851 orang dan meninggal 1.473 (sumber:www.covid.go.id )

Banyak negara telah merasakan dampak pandemi covid-19 ini termasuk Indonesia. Berbagai dampak yang muncul setelah wabah ini menyebar, dan WHO menetapkan wabah ini sebagai pandemi global covid-19. Dampak sosial dalam masyarakat sebagai akibat dari virus korona paling dirasakan oleh perempuan. Perempuan dalam budaya patriarki sudah sering mengalami beban ganda, muncul  pandemi Covid-19 beban perempuan semakin berlipat ganda bagi para ibu rumah tangga terkhusus perempuan bekerja atau biasa disebut ‘wanita karier’ yang sudah berkeluarga serta memiliki anak.

Saya termasuk perempuan yang bekerja sebagai tenaga pengajar juga merasakan kondisi ini sedikit agak berat, karena harus mengajar sebagai tugas dan kewajiban. Selain itu saya juga harus mengajar dan membantu anak mengerjakan tugas sekolah karena anak saya lebih suka diajar oleh saya di bandingkan diajar oleh suami saya. Bisa dibayangkan betapa repotnya para ibu rumah tangga yang membawa pekerjaaanya ke rumah kemudian harus terima untuk mendapat gangguan urusan rumah, urusan sekolah anak dan berbagai hal-hal sepele yang ada di rumah tanpa bantuan orang lain termasuk suami. Alhamdulillah suami saya agak responsif terhadap beban saya sehingga sedikit agak terbantu. Bagaimana dengan perempuan lain yang memiliki partner hidup agak kuat memegang “budaya malu” untuk mengerjakan pekerjaan yang ada di wilayah domestik?. Suami seperti ini masih banyak di negeri kita, karena faktor budaya patriarkhi yang masih kental. Mereka menganggap “tabu dan memalukan” jika seorang laki-laki  memasak di dapur, membersihkan rumah, mencuci, mengasuh anak, dan lai-lain pekerjaan perempuan, malah ada yang memberikan label ‘bencong/ waria” karena mengerjakan pekerjaaan perempuan.

Saya pernah mendapat curhatan sesama perempuan yang bekerja kantoran seperti saya juga. Curhatan ibu rumah tangga yang sangat kelelahan dan kewalahan selama masa pandemi ini, yang harus Stay at Home, Work from Home, dan School from Home bagi anak-anak mereka. Beban ganda, berganda-ganda lagi karena pekerjaan kantor dikerja di rumah, ditambahkan dengan pekerjaan rutin di rumah memasak, membersihkan, mencuci, mengasuh anak. Kemudian ditambahkan lagi mengajar anak dan membantu mengerjakan tugas sekolah anak secara on line yang cukup berat buat perempuan yang punya pengetahuan dan kemampuan paedagogik pas-pasan. Semuanya dilakukan perempuan karena dianggap bahwa sudah kewajibannya untuk mengerjakan pekerjaan dalam rumah

Berbanding terbalik dengan laki-laki yang berstatus suami dan ayah bagi anak-anak sekolahan, walaupun stay at home mereka fine-fine saja dan tetap fokus pada kerjaan kantornya. Kebanyakan suami kurang mau peduli dengan urusan rumah tangga (walaupun masih ada juga yang responsif tapi itu hanya sedikit) dan tidak peduli urusan school from home anak-anaknya. Kebanyakan para suami membiarkan istri mengurus pekerjaan domestik, plus and plus dengan urusan anak-anak mereka yang harus bersekolah di rumah.  Tidak sedikit mereka para suami menganggap bahwa semua itu sudah tugasnya seorang istri, sehingga silahkan kerjakan sendiri. 

Budaya patriarki yang masih kental dalam masyarakat kita, dengan mindset yang terpola sendiri, menganggap bahwa wilayah domestik hanyalah urusan perempuan termasuk pengasuhan anak. semakin membuat perempuan terbebani di tengah-tengah beban wabah pandemi covid-19. Beban ganda ini akan membuat wanita mudah stress dan semakin rentan untuk terserang penyakit. Tapi untunglah, Allah Swt. menciptakan perempuan dengan “format tahan banting” sehingga perempuan kuat mengahadapi berbagai keadaan.

Dimasa sulit ini, tidak sedikit perempuan yang berstatus ibu rumah tangga tetap menjalankan tugas kariernya di ranah publik dan tugas rumah di ranah domestiknya berjalan secara berimbang dan sukses. Memang perempuan merupakan makhluk Allah yang tangguh dan kuat dan memiliki keikhlasan untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga dan bangsa. Kaum perempuan masih tetap semangat dan pantang menyerah dalam keadaan seperti ini.

Meskipun perempuan adalah makhluk Allah yang serba bisa dengan segala keterbatasannya, tapi sikap dan perilaku resposif gender penting dimiliki oleh seorang suami dan semua laki-laki dalam berbagai situasi terutama di masa Pandemi Covid-19 ini. Perempuan butuh dukungan suami sebagai partner hidup, secara bersama-sama dalam membawa bahtera keluarga dan mewujudkan keluarga ‘Sakinah Mawaddah Warahmah’ yang berkeadilan bagi semuanya.



Bone, 28 Mei 2020



Suriani Nur

.










HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM Tadi malam sempat ikut kegiatan ‘ngaji ilmu dari suatu webinar’. Ada hal menarik dari pemat...