Kamis, 09 Juli 2020

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM


HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM

Tadi malam sempat ikut kegiatan ‘ngaji ilmu dari suatu webinar’. Ada hal menarik dari pemateri pertama yaitu  Prof Laksono, seorang guru besar Antropologi UGM, menarik buat saya karena materinya kebetulan nyambung dengan apa yang sedang saya tulis di Blog saya tentang hidup selaras alam. Awal pemaparan materinya membuat saya sempat ‘bete’  mendengarnya, karena bingung dan diawali dengan lagu daerah (Jawa) yang saya tidak tahu arti dan maknanya. Namun setelah menyimak lebih lanjut ternyata jadi menarik karena mengajak kita untuk menghilangkan stress dan melegakan hati dari kondisi pandemi saat ini. PM. Laksono membahas tentang pentingnya manusia untuk hidup selaras dengan alam melalui ‘rengeng-rengeng maskumambang”. Saat pandemi ini penting untuk menghibur diri dimasa terkurung dalam rumah yang cukup lama, karena stay at home dilakukan tidak sebentar,  bukan 1 menit, 1 jam, 1 hari , 1 bulan tapi dalam waktu yang lama dan belum punya ujung yang jelas. Karena itu penting menguatkan, membesarkan hati  manusia agar situasi sumpek terkurung dalam rumah bisa dengan hati lebih lapang, dengan mengajak menyenandungkan senandung ‘“rengeng-rengeng Maskumambang” yang selaras dengan alam sesuai bahasa daerah masing-masing. Konkritnya kegiatan ini diinisiasi oleh suatu komunitas dengan membuat sayembara ‘Rengeng-rengeng Maskumambang”.
Ada dua kata asing ditelingaku dan belum pernah ku dengar yaitu ‘rengeng-rengeng’ dan kata ‘Maskumambang’. Karena penasaran maka saya coba buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  ternyata ada di dalamnya. Menurut kamus bahasa Indonesia’ rengeng-rengeng’ berarti benyanyi-nyanyi  kecil dengan suara pelan (tidak jelas kata-katanya)  dan santai. ‘Maskumambang’ yaitu bentuk komposisi tembang macapat, biasanya dipakai untuk melukiskan kisah sedih atau keprihatinan yang mendalam, mempunyai bait lagu yang terdiri atas empat baris, baris pertama mempunyai 12 suku kata yang. Ini adalah suatu budaya lokal dengan menyanyikan satu tema lagu yang diangkat, digunakan untuk menggembirakan, nenyenankan atau menenangkan hati berdasarkan kondisi atau suasana yang ada.  Kalau dalam budaya Bugis & Makassar ada dikenal  sinrilik’,  dan dalam budaya makassar  ada juga dikenal lagu dalam  ‘a’royong’  dan setiap daerah akan berbeda-beda namanya.  
Berbicara alam, maka otomatis kita berbicara holistik tentang segala isinya. maka untuk dapat hidup tenang dan bahagia maka penting untuk menyelaraskan nada kehidupan kita dengan nada alam sehingga tidak terdengar gaduh dan menyesakkan dada. Jika melawan alam berarti melawan arus, jika melawan arus maka ada friksi, ada benturan. Apabila ada benturan maka berbagai efek yang akan muncul, syukur-syukur jika efek positif tapi jika efek negatif yang muncul maka disinilah muncul masalah dan kerugian bagi manusia.
Hidup selaras dengan irama alam berlaku untuk semua situasi dan kondisi alam dan lingkungan hidup, dalam artian bahwa manusia harus bisa melakukan adapatasi atau penyesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh alam sehingga masalah lingkungan hidup diminimalisir resikonya bagi manusia. Sebutlah masalah lingkungan saat ini yang banyak terjadi di musim hujan adalah banjir dan longsor. Miris dan menyedihkan  jika melihat rumah dibawa pergi oleh air (banjir) atau dibawa oleh tanah bergerak (longsor). Beberapa kasus banjir di tanah air dengan kerugian yang tidak sedikit, beberapa kasusr longsor di tanah air juga banyak terjadi.  Baru-baru ini gambarnya viral di medsos tanah longsor  yang terjadi tanggal 26 Juni 2020  di kelurahan Battang Barat Kec. Wara Barat  Palopo dan membawa rumah ke dalam jurang serta mengakibatkan jalan terputus. Tanah longsor seperti itu sudah kerap kali terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Sebut saja longsor di Bandung 33 orang meninggal (23/2/2010), Agam, Sumbar (27/1/2013) ada 20 orang meninggal, Banjarnegara (12/12/2014) meninggal 20 orang, Lonsor di kaki Gunung Bawakaraeng Gowa (26/3/2004) menewaskan 30 orang warga dan masih banyak lagi kejadian longsor yang terjadi di tanah air. Pada hakekatnya terjadinya suatu banjir atau tanah longsor tidak masalah jika tidak membawa kerugian langsung pada manusia, tapi jika sudah menimbun ternak, rumah dan bahkan manusia ini yang perlu menjadi perhatian bersama dalam memanfaatkan suatu sumber daya alam.
Contoh kasus tanah longsor,   mungkin kita menganggap bahwa sudah sunnatullah itu terjadi, tapi sebenarnya ada campur tangan manusia di dalamnnya. Pemanfaatan lahan secara serampangan sering terjadi dalam masyarakat kita. Terkadang masyarakat menganggap bahwa tidak ada yang boleh melarang menebang pohon dan merubahnya menjadi lahan pertanian palawija, ini tanah milik saya.  siapa yang mau melarang jika saya membangun rumah dan memanfaatkan lahan di  lereng pada kemiringan 45 derajat, ini tanah saya punya. Sikap egois seperti ini banyak terjadi dalam masyarakat kita. Rasa memiliki manusia yang sangat tinggi biasanya menjadikan tidak peduli pada hak publik yang dirampasnya. Begitu bencana sudah datang apa yang mau dikata, nasi sudah menjadi bubur hanya bisa terdiam karena tertimbun atau terdiam karena heran melihat tanah mengalir bagaikan air. Bencana yang terjadi kelihatan sebagai sebuah bencana alam, tapi jika di runut secara detail, sebenarnya kebanyakan bencana terjadi  merupakan bencana buatan manusia. Manusia  yang membuat bencana lewat tangannya sendiri. Hal ini sesuai sebagaimana di firmankan Allah dalam Qs. Ar Ruum (30): 44.
“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut (disebabkan) karena perbuatan manusia , supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat ) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar. ) [Qs. Ar Ruum (30): 44
] “ ... dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan [Q.s. al-Qashash” (28): 77]
Pada berbagai tempat yang terjadi tanah longsor secara besar-besaran terlihat bahwa alih fungsi lahan pada bagian hulu merupakann salah satu masalah tersendiri tetapi berakibat pada banyak masalah. Perlindungan dan pemeliharaan fungsi tanah di lahan yang sesuai peruntukannya penting dilakukan oleh semua unsur dan komponen masyarakat demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan kehidupan yang lestari. Manusia sebaiknya jangan egois dalam memanfaatkan alam, tanpa memperhatikan daya dukung lingkugan demi kehidupan lestari. Oleh karena itu mari kita menjadi bijak dalam hidup ini. Berpijak di bumi Allah Swt. dengan mengikuti irama alam agar menghadirkan nyanyian alam yang menenangkan, menyenangkan,  serta membahagiakan diri kita dan seluruh isi alam semesta.


Bone, 9 Juli 2020


Suriani Nur


5 komentar:

Sri Wahyuni mengatakan...

Luar biasa bu.Inspiratif

Syamsidar HS mengatakan...

Masya Allah...luar biasa kanda

Rina Novianty mengatakan...

Mantap bu...Karena alam jg butuh perhatian dari manusia supaya alam dan manusia hidup selaras dan seimbang..

Aisyah Rusnali mengatakan...

Inspiratif bu.pesannya,mari bersahabat dengan alam sebagai tempat kita tinggal

Suriani Nur mengatakan...

terima kasih semua dinda
komentarnya

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM

HIDUP BAHAGIA SELARAS DENGAN IRAMA ALAM Tadi malam sempat ikut kegiatan ‘ngaji ilmu dari suatu webinar’. Ada hal menarik dari pemat...