Responsif Gender di Masa Pandemi Covid-19
By: Suriani Nur
Tidak ada seorang pun yang
memprediksi sebelumnya bahwa makhluk kecil yang bernama virus corona dapat
mempengaruhi sikap dan perilaku manusia global saat ini. Masyarakat dunia telah
mengalami perubahan besar pada semua lini kehidupan dan memiliki dampak sosial
yang cukup nyata sebagai akibat dari virus
SARS-CoV-2. Sejak wabah penyakit covid-19 merebak, berawal dari wuhan China
kemudian menyebar ke berbagai negara, virus ini bukan hanya menginfeksi manusia sebagai sebuah penyakit
tapi sudah mengubah tatanan dunia global yang sudah mapan. Virus ini tidak
pilih kasih, tidak memperhatikan status negara maju maupun negara berkembang,
orang kaya maupun orang miskin, perempuan maupun laki-laki, bayi,
anak-anak,remaja atau manula semua bisa menjadi target si virus tersebut. Berdasarkan
data dari Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 (GTTPC19), hingga saat
ini (27/5/2020) di Indonesia tercatat jumlah manusia terinfeksi: 23.851 orang
dan meninggal 1.473 (sumber:www.covid.go.id )
Banyak negara telah merasakan dampak pandemi covid-19 ini
termasuk Indonesia. Berbagai dampak yang muncul setelah wabah ini menyebar, dan
WHO menetapkan wabah ini sebagai pandemi global covid-19. Dampak sosial dalam
masyarakat sebagai akibat dari virus korona paling dirasakan oleh perempuan.
Perempuan dalam budaya patriarki sudah sering mengalami beban ganda, muncul pandemi Covid-19 beban perempuan semakin berlipat
ganda bagi para ibu rumah tangga terkhusus perempuan bekerja atau biasa disebut
‘wanita karier’ yang sudah berkeluarga serta memiliki anak.
Saya termasuk perempuan yang bekerja sebagai tenaga pengajar
juga merasakan kondisi ini sedikit agak berat, karena harus mengajar sebagai
tugas dan kewajiban. Selain itu saya juga harus mengajar dan membantu anak
mengerjakan tugas sekolah karena anak saya lebih suka diajar oleh saya di
bandingkan diajar oleh suami saya. Bisa dibayangkan betapa repotnya para ibu
rumah tangga yang membawa pekerjaaanya ke rumah kemudian harus terima untuk
mendapat gangguan urusan rumah, urusan sekolah anak dan berbagai hal-hal sepele
yang ada di rumah tanpa bantuan orang lain termasuk suami. Alhamdulillah suami
saya agak responsif terhadap beban saya sehingga sedikit agak terbantu.
Bagaimana dengan perempuan lain yang memiliki partner hidup agak kuat memegang “budaya
malu” untuk mengerjakan pekerjaan yang ada di wilayah domestik?. Suami seperti
ini masih banyak di negeri kita, karena faktor budaya patriarkhi yang masih
kental. Mereka menganggap “tabu dan memalukan” jika seorang laki-laki memasak di dapur, membersihkan rumah,
mencuci, mengasuh anak, dan lai-lain pekerjaan perempuan, malah ada yang memberikan
label ‘bencong/ waria” karena mengerjakan
pekerjaaan perempuan.
Saya pernah mendapat curhatan sesama perempuan yang bekerja
kantoran seperti saya juga. Curhatan ibu rumah tangga yang sangat kelelahan dan
kewalahan selama masa pandemi ini, yang harus Stay at Home, Work from Home, dan School from Home bagi anak-anak
mereka. Beban ganda, berganda-ganda lagi karena pekerjaan kantor dikerja di
rumah, ditambahkan dengan pekerjaan rutin di rumah memasak, membersihkan,
mencuci, mengasuh anak. Kemudian ditambahkan lagi mengajar anak dan membantu
mengerjakan tugas sekolah anak secara on
line yang cukup berat buat perempuan yang punya pengetahuan dan kemampuan paedagogik pas-pasan. Semuanya dilakukan
perempuan karena dianggap bahwa sudah kewajibannya untuk mengerjakan pekerjaan
dalam rumah
Berbanding terbalik dengan laki-laki yang berstatus suami dan
ayah bagi anak-anak sekolahan, walaupun stay
at home mereka fine-fine saja dan
tetap fokus pada kerjaan kantornya. Kebanyakan suami kurang mau peduli dengan
urusan rumah tangga (walaupun masih ada juga yang responsif tapi itu hanya sedikit)
dan tidak peduli urusan school from home anak-anaknya.
Kebanyakan para suami membiarkan istri mengurus pekerjaan domestik, plus and plus dengan urusan anak-anak
mereka yang harus bersekolah di rumah. Tidak
sedikit mereka para suami menganggap bahwa semua itu sudah tugasnya seorang
istri, sehingga silahkan kerjakan sendiri.
Budaya patriarki yang masih kental dalam masyarakat kita,
dengan mindset yang terpola sendiri, menganggap
bahwa wilayah domestik hanyalah urusan perempuan termasuk pengasuhan anak.
semakin membuat perempuan terbebani di tengah-tengah beban wabah pandemi
covid-19. Beban ganda ini akan membuat wanita mudah stress dan semakin rentan
untuk terserang penyakit. Tapi untunglah, Allah Swt. menciptakan perempuan
dengan “format tahan banting”
sehingga perempuan kuat mengahadapi berbagai keadaan.
Dimasa sulit ini, tidak sedikit perempuan yang berstatus ibu
rumah tangga tetap menjalankan tugas kariernya di ranah publik dan tugas rumah
di ranah domestiknya berjalan secara berimbang dan sukses. Memang perempuan
merupakan makhluk Allah yang tangguh dan kuat dan memiliki keikhlasan untuk memberikan
yang terbaik bagi keluarga dan bangsa. Kaum perempuan masih tetap semangat dan
pantang menyerah dalam keadaan seperti ini.
Meskipun perempuan adalah makhluk Allah yang serba bisa
dengan segala keterbatasannya, tapi sikap dan perilaku resposif gender penting
dimiliki oleh seorang suami dan semua laki-laki dalam berbagai situasi terutama di masa Pandemi Covid-19 ini. Perempuan butuh dukungan suami
sebagai partner hidup, secara bersama-sama dalam membawa bahtera
keluarga dan mewujudkan keluarga ‘Sakinah Mawaddah Warahmah’ yang berkeadilan
bagi semuanya.
Bone, 28 Mei 2020
Suriani Nur
.
5 komentar:
Inspiring article
Inspiring article
Mantab bu
Inspiratif sekali
mantap bu doktor
Luar biasa, sungguh inspiratif
Posting Komentar