LINGKUNGAN
HIDUP DAN PANDEMI COVID-19
Saat ini kita masih dalam suasana pandemi covid-19, entah kapan akan
berakhir karena vaksin dan obatnya belum ditemukan. Jika tetap menerapkan “stay
at home”, maka banyak sektor yang menjadi tidak produktif dan akan gulung tikar.
Kondisi ini mengakibatkan ekonomi terancam padahal kehidupan kita harus
berlangsung, sehingga memaksa kita untuk hidup dalam tatanan baru kalau mau
tetap survive. Pada saat masih sibuk
melawan pandemi virus corona, kita juga dihadapkan pada kondisi ekonomi yang
semakin terpuruk. Baru beberapa hari diterapkan PSBB di jakarta setelah
covid-19 merebak, terlihat banyak orang yang keluar dari kontrakakn untuk tidur
di pinggir jalan karena tak mampu membayar kontrakan. Ada orang kelaparan,
kriminalitas meningkat karena banyak PHK dan lain-lain persoalan sosial muncul
akibat geliat ekonomi berkurang. Sehingga
walaupun menimbulkan pro dan kontra di dalam masyarakat, maka ‘New normal’ diambil
demi memulihkan kondisi ekonomi.
New normal sebagai sebuah tatanan kehidupan normal yang berbeda dari
kehidupan normal sebagaimana keadaan normal sebelum ada pandemi. Melakukan cuci
tangan, pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan dan berbagai aturan lainnya,
yang sebelumnya jarang dilakukan kemudian menjadi sebuah protokol baru, yang
harus dilakukan jika mau berkegiatan di luar rumah. Kalau dulu pakai masker
hanya digunakan pelajar dan mahasiswa yang praktikum di laboratorium, dipakai
oleh dokter dan paramedis dan berbagai profesi lainnya yang harus melindungi
diri saat bekerja, maka saat pandemi ini kita semua diwajibkan memakai masker
jika berinteraksi dan berada dalam kerumunan manusia. Karena menunggu virus
corona untuk pergi tidak jelas kapan. Memangnya virus akan pergi? Mau pergi ke mana?
Toch virus juga penghuni bumi ini, virus juga membutuhkan ruang seperti kita
sebagaimana makhluk hidup lainnnya. Virus adalah merupakan bagian dari
kehidupan kita.
Saya teringat suatu waktu awal pandemi dan media setiap hari banyak
memberitakan tentang jumlah terinfeksi dan kematian manusia secara global, atau
pemberitaan jumlah orang terinfeksi dan mengalami kematian di Indoensia, anakku bertanya, “bunda corona itu kapan pergi
yach?. Kenapa Allah menciptakan virus yang membuat orang mati?”. yach ini
memang pertanyaan anak kecil tapi juga menjadi pertanyaan kita yang awan
tentang semua ini. Susah juga mau mengusir virus, bakteri atau jamur dalam
kehidupan karena semua ini adalah makhluk yang ada dalam lingkungan hidup. Sebagai
mikroorganisme maka bakteri, jamur dan virus juga merupakan bagian dari
ekosistem kehidupan. Dalam ekosistem antara satu komponen dengan komponen
lainnya ada keterkaitan, ada hubungan baik antara makhluk hidup dengan makhluk
hidup, makhluk hidup dengan benda mati, maupun benda mati dengan benda mati.
Interaksi manusia dengan lingkungannya sudah dilakukan sejak manusia
itu hadir di bumi ini. karena manusia memiliki ketergantungan yang tinggi
terhadap lingkungannya. Mengapa? karena manusia memenuhi kebutuhan sandang,
pangan dan papan pasti dari alam. Interaksi manusia dengan lingkungannya akan
terus berlanjut mulai dari bayi hingga dewasa tua dan bahkan meninggal hingga
tubuh kita hancur di uraikan mikroorganisme menjadi unsur berupa: Carbon (C),
Hidrogen (H), Nitrogen (N), Phosfor (P) dan lain-lain, serta akan menyatu
dengan tanah. Dalam siklus kehidupan dimana kita berasal dari ‘sari pati tanah’
yang dimakan orang tua melalui aneka makanan, dan kemudian melalui perkawinan
menghadirkan individu baru yang tumbuh menjadi dewasa, tua dan mati. Inilah di
dalam lingkungan hidup terdapat siklus energi, siklus mineral, dan berbagai
siklus dalam kehidupan.
Mencermati
dari berbagai literatur terlihat bagaimana perkembangan epidemiologi menjelaskan
tentang peranan lingkungan dalam terjadinya wabah dan penyakit. Lingkungan
sangat berpengaruh terhadap mewabahnya penyakit sudah lama diketahui dan
diprediksi. Hippocrates (460-377 SM), merupakan seorang dokter dan tokoh di
dunia kedokteran yang pertama kali memberikan argumennya bahwa penyakit berhubungan
dan sangat berkaitan dengan lingkungannya. Kalau tidak ada interaksi maka tidak
berpindah-pindah virusnya, makanya kita disarankan untuk mengikuti protokol kesehatan
agar dapat memutus rantai penyebaran si virus.
Virus, bakteri, dan jamur sebagai mikrooganisme sebenarnya dari dulu
memang sudah ada dan akan terus ada hingga akhir zaman. Baik mikroorganisme
menguntungkan maupun mikroorganisme yang merugikan. Seluruh komponen lingkungan
hidup baik benda mati maupun makhluk hidup harus diperlakukan secara arif dan
bijaksana. Manusia seyogyanya tidak mengusik dan menganggu keberadaan dan kehidupan
makhluk hidup lainnya, termasuk mengotak atik makhluk hidup seperti virus
melalui rekayasa genetik yang bertujuan dan berniat buruk untuk menghancurkan
orang lain. Manusia harus bijak dalam mengembangkan teknologi dan memanfatkan
sumber daya yang ada. Mari hidup selaras dengan alam...
Bone, 18 Juni 2020-06-18
Suriani Nur

4 komentar:
Mantap kanda... virus jg makhluk Allah
Mantap
Mantap bu..
Mantap. Mari istiqamah menulis
Posting Komentar