HIDUP BAHAGIA SELARAS
DENGAN IRAMA ALAM
Tadi malam sempat ikut kegiatan ‘ngaji ilmu
dari suatu webinar’. Ada hal menarik dari pemateri pertama yaitu Prof Laksono, seorang guru besar Antropologi
UGM, menarik buat saya karena materinya kebetulan nyambung dengan apa yang sedang
saya tulis di Blog saya tentang hidup selaras alam. Awal pemaparan materinya membuat
saya sempat ‘bete’ mendengarnya, karena
bingung dan diawali dengan lagu daerah (Jawa) yang saya tidak tahu arti dan
maknanya. Namun setelah menyimak lebih lanjut ternyata jadi menarik karena
mengajak kita untuk menghilangkan stress dan melegakan hati dari kondisi
pandemi saat ini. PM. Laksono membahas tentang pentingnya manusia untuk hidup
selaras dengan alam melalui ‘rengeng-rengeng maskumambang”. Saat pandemi ini penting
untuk menghibur diri dimasa terkurung dalam rumah yang cukup lama, karena stay at home dilakukan tidak sebentar, bukan 1 menit, 1 jam, 1 hari , 1 bulan tapi
dalam waktu yang lama dan belum punya ujung yang jelas. Karena itu penting menguatkan,
membesarkan hati manusia agar situasi sumpek
terkurung dalam rumah bisa dengan hati lebih lapang, dengan mengajak menyenandungkan
senandung ‘“rengeng-rengeng Maskumambang” yang selaras dengan alam sesuai
bahasa daerah masing-masing. Konkritnya kegiatan ini diinisiasi oleh suatu
komunitas dengan membuat sayembara ‘Rengeng-rengeng Maskumambang”.
Ada dua kata asing ditelingaku dan belum
pernah ku dengar yaitu ‘rengeng-rengeng’ dan kata ‘Maskumambang’. Karena
penasaran maka saya coba buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata ada di dalamnya. Menurut kamus bahasa
Indonesia’ rengeng-rengeng’ berarti benyanyi-nyanyi kecil dengan suara pelan (tidak jelas
kata-katanya) dan santai. ‘Maskumambang’
yaitu bentuk komposisi tembang macapat, biasanya dipakai untuk melukiskan kisah
sedih atau keprihatinan yang mendalam, mempunyai bait lagu yang terdiri atas
empat baris, baris pertama mempunyai 12 suku kata yang. Ini adalah suatu budaya
lokal dengan menyanyikan satu tema lagu yang diangkat, digunakan untuk menggembirakan,
nenyenankan atau menenangkan hati berdasarkan kondisi atau suasana yang ada. Kalau dalam budaya Bugis & Makassar ada
dikenal ‘sinrilik’, dan dalam budaya makassar
ada juga dikenal lagu dalam ‘a’royong’
dan setiap daerah akan berbeda-beda
namanya.
Berbicara alam, maka otomatis kita berbicara
holistik tentang segala isinya. maka untuk dapat hidup tenang dan bahagia maka
penting untuk menyelaraskan nada kehidupan kita dengan nada alam sehingga tidak
terdengar gaduh dan menyesakkan dada. Jika melawan alam berarti melawan arus,
jika melawan arus maka ada friksi, ada benturan. Apabila ada benturan maka
berbagai efek yang akan muncul, syukur-syukur jika efek positif tapi jika efek
negatif yang muncul maka disinilah muncul masalah dan kerugian bagi manusia.
Hidup selaras dengan irama alam berlaku untuk
semua situasi dan kondisi alam dan lingkungan hidup, dalam artian bahwa manusia
harus bisa melakukan adapatasi atau penyesuaian dengan apa yang dikehendaki
oleh alam sehingga masalah lingkungan hidup diminimalisir resikonya bagi
manusia. Sebutlah masalah lingkungan saat ini yang banyak terjadi di musim
hujan adalah banjir dan longsor. Miris dan menyedihkan jika melihat rumah dibawa pergi oleh air
(banjir) atau dibawa oleh tanah bergerak (longsor). Beberapa kasus banjir di
tanah air dengan kerugian yang tidak sedikit, beberapa kasusr longsor di tanah
air juga banyak terjadi. Baru-baru ini
gambarnya viral di medsos tanah longsor yang
terjadi tanggal 26 Juni 2020 di
kelurahan Battang Barat Kec. Wara Barat Palopo dan membawa rumah ke dalam jurang serta
mengakibatkan jalan terputus. Tanah longsor seperti itu sudah kerap kali
terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Sebut saja longsor di Bandung 33
orang meninggal (23/2/2010), Agam, Sumbar (27/1/2013) ada 20 orang meninggal, Banjarnegara
(12/12/2014) meninggal 20 orang, Lonsor di kaki Gunung Bawakaraeng Gowa
(26/3/2004) menewaskan 30 orang
warga dan masih banyak lagi kejadian longsor yang terjadi di tanah air. Pada
hakekatnya terjadinya suatu banjir atau tanah longsor tidak masalah jika tidak
membawa kerugian langsung pada manusia, tapi jika sudah menimbun ternak, rumah
dan bahkan manusia ini yang perlu menjadi perhatian bersama dalam memanfaatkan
suatu sumber daya alam.
Contoh
kasus tanah longsor, mungkin kita
menganggap bahwa sudah sunnatullah itu terjadi, tapi sebenarnya ada campur
tangan manusia di dalamnnya. Pemanfaatan lahan secara serampangan sering
terjadi dalam masyarakat kita. Terkadang masyarakat menganggap bahwa tidak ada
yang boleh melarang menebang pohon dan merubahnya menjadi lahan pertanian
palawija, ini tanah milik saya. siapa
yang mau melarang jika saya membangun rumah dan memanfaatkan lahan di lereng pada kemiringan 45 derajat, ini tanah
saya punya. Sikap egois seperti ini banyak terjadi dalam masyarakat kita. Rasa
memiliki manusia yang sangat tinggi biasanya menjadikan tidak peduli pada hak
publik yang dirampasnya. Begitu bencana sudah datang apa yang mau dikata, nasi
sudah menjadi bubur hanya bisa terdiam karena tertimbun atau terdiam karena
heran melihat tanah mengalir bagaikan air. Bencana yang terjadi kelihatan
sebagai sebuah bencana alam, tapi jika di runut secara detail, sebenarnya
kebanyakan bencana terjadi merupakan
bencana buatan manusia. Manusia yang
membuat bencana lewat tangannya sendiri. Hal ini sesuai sebagaimana di firmankan
Allah dalam Qs. Ar Ruum (30): 44.
“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut (disebabkan) karena
perbuatan manusia , supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat
) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar. ) [Qs. Ar Ruum
(30): 44
] “ ... dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya
allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan [Q.s. al-Qashash” (28):
77]
Pada berbagai tempat yang terjadi tanah
longsor secara besar-besaran terlihat bahwa alih fungsi lahan pada bagian hulu
merupakann salah satu masalah tersendiri tetapi berakibat pada banyak masalah. Perlindungan
dan pemeliharaan fungsi tanah di lahan yang sesuai peruntukannya penting
dilakukan oleh semua unsur dan komponen masyarakat demi mewujudkan pembangunan berkelanjutan
dan kehidupan yang lestari. Manusia sebaiknya jangan egois dalam memanfaatkan
alam, tanpa memperhatikan daya dukung lingkugan demi kehidupan lestari. Oleh
karena itu mari kita menjadi bijak dalam hidup ini. Berpijak di bumi Allah Swt.
dengan mengikuti irama alam agar menghadirkan nyanyian alam yang menenangkan,
menyenangkan, serta membahagiakan diri
kita dan seluruh isi alam semesta.
Bone, 9 Juli 2020
Suriani Nur

5 komentar:
Luar biasa bu.Inspiratif
Masya Allah...luar biasa kanda
Mantap bu...Karena alam jg butuh perhatian dari manusia supaya alam dan manusia hidup selaras dan seimbang..
Inspiratif bu.pesannya,mari bersahabat dengan alam sebagai tempat kita tinggal
terima kasih semua dinda
komentarnya
Posting Komentar